Cita citaku Seluas Lumpur


Judul: Cita citaku Seluas Lumpur
Kategori: Cerpen Motivasi
Penulis: Irma Kinanthi

Pagi ini tak ada bedanya dengan hari-hari sebelumnya, aroma yang khas itu masih ada. Aku sebut khas karena aroma itu bak pedang yang menusuk tubuh. Memang aromanya menusuk, menusuk indra penciuman dan jangan bayangkan baunya seperti masakan di hotel-hotel bintang lima. Baunya seperti kentut lebih tepatnya seperti bau belerang. Padahal aku berharap ada perubahan pada pagi ini.

Aku tinggal disini, di sebuah kota yang ramai, sibuk dan tentu saja ada lautan lumpur yang baunya luar biasa. Sebelumnya kotaku tak seperti ini, kotaku luas, tak berlumpur dan penduduknya pun tak mudah naik darah seperti sekarang.
Setiap sore aku bermain layang-layang di tepi tanggul, anginnya cukup kencang, layang-layangku terbang tinggi. Namun kali ini aku tak beruntung, layang-layangku putus dan lenyap seketika ditelan lumpur yang berbuih. Itu tandanya aku harus pulang ke rumah karena senja telah tiba. Sebenarnya rumahku tak jauh dari tempatku bermain layang-layang tadi, tapi lagi-lagi gara-gara ada lumpur lumpur yang semakin meluas maka kami sekeluarga harus pindah.

Sang Samudera

Judul: Sang Samudera
Kategori: Cerpen Motivasi
Penulis: Ahmad Riyan Nailanie

Hidup seperti sebuah kertas yang masih polos tanpa sebuah tinta. Awal kehidupan seperti telur yang berada di ujung tanduk. Sebuah kisah dan realita kehidupan seperti tulisan yang dikarang penulis. Aku bagaikan samudera yang lantang terdengar, bagiku hidup ini seperti lukisan dan hanyalah imaji seorang pengarang. Sudah sekian lama aku merenung dalam kabut senja dan hanya ditemani ilusi mimpi. Bukanlah sebuah kepahitan hidup yang dialami seorang yang memiliki moto hidup bagai samudera. Tetapi orang yang memiliki samudera adalah orang yang mempunyai lukisan hidup yang abadi.

Sore itu saat semua barisan mata tertutup diantara bilik kamar 006, aku mendengar jeritan mereka. ‘’Suara kemana aku berlari’’, sahut guraman hatiku yang mendengar jeritan itu. Suasana saat itu seperti ditutupi kabut merah, aku hanya mendengar tetapi tak dapat arti rasa itu. Bagiku hanyalah sebuah jeritan yang terkadang sulit untuk dipahami. Lalu sesaat hilanglah suara jeritan itu dan tiba-tiba suara tangis terdengar. Apa makna ini semua? Pertanyaan itu muncul lagi dari hatiku. Setelah beberapa saat aku terdiam dan memutuskan untuk menghilang dari kabut merah yang mencekam hatiku.

Kado Terakhir Dari Sahabatku

Judul: Kado Terakhir Dari Sahabatku
Kategori: Cerpen Persahabatan
Penulis: Siti Fatmah

Matahari yang menyinari kamar tidurku membuatku bangun dari tempat tidur, burung-burung yang hinggap di jendela kamar tidurku ikut merasakan kebahagiaanku, “ Hari ini aku sangat bahagia sekali karena hari ini adalah ulang tahunku yang ke 13, semoga saja keluarga dan teman-temanku ingat kalau hari ini adalah ulang tahun ku” kataku . Aku sudah siap-siap untuk berangkat sekolah, ku kira saat ku membuka pintu kamar ,ada yang mengucapkanku selamat, tapi dari tadi tidak ada satupun orang yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku, disekolahpun seperti itu malah sahabatku juga seperti tidak tahu kalau hari ini adalah ulang tahunku.

Dibalik Cerita Novel

Judul: Dibalik Cerita Novel
Kategori: Cerpen Cinta
Penulis: Ratu Putri

“Asyik.. Akhirnya novel Agnes Jessica rilis.” Kataku saat melihat infonya di situs mbah google.

“Seminggu lagi novelnya bakalan dijual di toko buku dan gue bakalan jadi pembeli pertama. Haha.. “

Namaku Yuri. Aku penggemar novel-novel karya Agnes Jessica. Kini aku kuliah di jurusan Kimia di Universitas Negeri di Jambi.

Seminggu kemudian aku bergegas ke Gramedia untuk membeli novel tsb. Saat aku tiba di Gramed, ternyata tokonya belum buka. Akupun menunggu di salah satu tempat makan yang jaraknya tak jauh dari gramed. Tak jauh dari tempatku duduk, kulihat seorang cowok dan cewek yang sedang suap-suapan makanan seperti anak kecil yang baru belajar makan. Huh..apaan itu? Ucapku dalam hati. Akupun menghindari pandanganku dari mereka dan mulai melanjutkan sarapanku.

Doa Disetiap Air Mataku

Judul: Doa Disetiap Air Mataku
Kategori: Cerpen Ibu, Cerpen Ayah 
Penulis: Rachma Mamlu'atul Maulla
  
Aku masih termenung di antara rintikan air hujan sore ini,berharap mendapatkan inspirasi agar dapat membuat cerpen dan menambah koleksi cerpenku,tapi bukan inspirasi cerita yang ku dapatkan,melainkan pernyataan abah jika aku akan di kirim ke pesantren untuk meneruskan studyku,itu bukan pilihanku,aku tak pernah berpikiran jika aku akan di pondokkan,bagiku itu sama saja dengan di penjara,aku tak lagi dapat membuat cerpen ataupun main dengan teman-temanku,huffttt....ku usap kaca jendelaku yang ber embun dengan telapak tanganku . . .

‘’Selna . . . abah udah daftarin kamu di pesantren tempat abah dan tetehmu dulu menimba ilmu,besok kamu ikut abah kesana buat ngasih formulir ini,isi formulir ini’’.ujar abah menyodorkan selembar kertas padaku,aku hanya menganggukkan kepala menerima kertas dari abah dan masuk kedalam kamar,ku tenggelamkan mukaku di antara bantal dan boneka-boneka kesayanganku,ku peluk erat-erat benda milikku yang ada di kamar,mungkin sebentar lagi aku akan meninggalkan ini semua,mungkin aku akan kehilangan ini semua,ku lirik tumpukan novel di rak bukuku,dan mungkin juga tumpukan novel itu akan berubah menjadi tumpukan kitab kuning ataupun al qur’an yang akan menemani setiap hariku,‘’Selna...makan malam dulu nak,abah sudah menunggu di ruang makan’’,kata umi membuka pintu kamarku ‘’selna masih kenyang umi,selna mau tidur aja ya’’.kataku ‘’baiklah....’’.kata umi pengertian menutup pintu kamarku

Kau yang Merubah Hatiku

Judul: Kau yang Merubah Hatiku
Kategori: Cerpen Cinta
Penulis: Ari Indiastuti

Awal dari sebuah rasa manis akan tetap manis jika kita pintar mengolah rasa manis itu agar tetap manis. Cerita itu berawal pada sebuah hubungan antara cewek manis yang sering disapa Indi dengan cowok yang sering dipanggil Ihsan. 

Hubungan mereka yang telah berjalan hampir 9 bulan ini berawal mulus dan penuh dengan bahagia. Rasa pahit ini dimulai saat hari-hari sebelum ulang tahun aku di akhir bulan awal tahun ini. Sebuah perubahan terjadi pada Ihsan. 

Waktu yang tak pernah ada untukku membuatku sudah kehabisan kesabaran untuk selalu ngertiin dia yang sibuk berkerja, hingga hari libur pun ia tetap bekerja. Hingga 2 minggu sebelum ulang tahunku,aku mengirim sebuah pesan panjang kepada Ihsan.

Sebening Cinta Embun

Judul: Sebening Cinta Embun
Kategori: Cerpen Sedih
Penulis: Novie An-Nuril Khiyar

Embun. Aku memanggilnya embun. Titik – titik air yg jatuh dari langit di malam hari dan berada di atas dedaunan hijau yang membuatku damai berada di taman ini, seperti damai nya hatiku saat berada disamping wanita yang sangat aku kagumi, embun.

“ngapain diam di situ, ayo sini rei…” teriakan embun yang memecahkan lamunanku. Aku lalu menghampirinya, dan tersenyum manis dihadapan nya.

Maaf Ku Harus Pergi dari Cintamu

Judul: Maaf Ku Harus Pergi dari Cintamu
Kategori: Cerpen Sedih

Penulis: Sugi Alwin Rey

Indahnya cinta kurasa , tetapi tak seindah yang kukira . malam semakin malam, tanpa ada dirimu disisi. ku mohon pada dirimu jangan dustai hati dan cintaku. Kasihku hanyalah dirimu , kasihku aku cinta padamu .Lembut nya embun pagi menyapa hati dan cintaku , seolah tak berhenti berharap akan cintamu. Manisnya cintamu dan indah senyum bibirmu menambah rasa cintaku kepada dirimu . dunia maya adalah awal cerita kita yang tak pernah kulupa sepanjang hidupku . perkenalan ku dengan dirinya membawa arti kebahagian dalam hidupku. Perbedaan pendapat membawa kita pada jurang kehancuran.

Maaf ini sudah menjadi keputusan ku dan harus pergi untuk kesekian kalinya , dan aku pun tak bisa berbuat apa – apa hanya kata maaf ku bisa ku ucapkan padamu.

Bunga dan Derita

Judul: Bunga dan Derita
Kategori: Cerpen Sedih, Cerpen Remaja
Penulis: Ray Nurfatimah

Aku masih terpaku pada deretan bunga sepatu di hadapanku. Bunga yang telah terkatup layu seiring dengan telah lamanya aku menanti seorang pria yang mengajakku kencan di taman ini. Tiga puluh menit dari jadwal janjian, terasa tak jadi masalah saat dari kejauhan terdengar seseorang memanggilku. Namun saat kupalingkan wajahku, aku kecewa bukan main ternyata hanya kegaduhan orang-orang disebrang jalan.

Kembali aku fokuskan perhatianku pada rangkaian bunga dihadapanku. Sesekali kulirik wajahku pada kaca mungil yang sengaja kubawa. Aku harus memastikan saat Dannis datang aku bisa terlihat lebih cantik. Soalnya dia adalah laki-laki pertama yang aku persilahkan untuk mengajak diriku berkencan, ya walau hanya di taman kota saja. Dannis adalah teman sekelasku yang dua tahun terakhir ini aku idam-idamkan tembakannya. Padahal sebelumnya waktu menginjak kelas satu SMA aku sangat tidak akur dengan cowok tengil itu.